Social Icons

Rabu, 20 Maret 2013

TOKOH MUSIK TRADISIONAL

 GESANG

Gesang atau lengkapnya Gesang Martohartono (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 20 Mei 2010 pada umur 92 tahun) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Indonesia. Dikenal sebagai “maestro keroncong Indonesia,” ia terkenal lewat lagu Bengawan Solo ciptaannya, yang terkenal di Asia, terutama di Indonesia dan Jepang. Lagu ‘Bengawan Solo’ ciptaannya telah diterjemahkan kedalam, setidaknya, 13 bahasa (termasuk bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang)


Lagu bengawan solo diciptakan pada tahun 1940, ketika ia beusia 23 tahun. Gesang muda ketika itu sedang duduk di tepi Bengawan Solo, ia yang selalu kagum dengan sungai tersebut, terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Proses penciptaan lagu ini memakan waktu sekitar 6 bulan.
Lagu Bengawan Solo juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang. Bengawan Solo sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar Jepang.
Gesang tinggal di di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Gubernur Jawa Tengah tahun 1980 selama 20 tahun. Ia telah berpisah dengan istrinya tahun 1962. Selepasnya, memilih untuk hidup sendiri. Ia tak mempunyai anak.
Gesang pada awalnya bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti; Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa perang dunia II. Sayangnya, ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, pada tahun 1983 Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.
Gesang sempat dikabarkan meninggal dunia pada tanggal 18 Mei 2010 setelah kesehatannya dilaporkan memburuk.
Gesang dilarikan ke rumah sakit akibat kesehatannya menurun pada Rabu (19/05/2010). Selanjutnya, Gesang harus dirawat di ruang ICU sejak Minggu (16/5) karena kesehatannya terus menurun. Rumah sakit membentuk sebuah tim untuk menangani kesehatan yang terdiri dari lima dokter spesialis yang berbeda. Hingga akhirnya beliau meninggal pada hari Kamis (20/05/2010) Pukul 18:10 di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta.
LAGU-LAGU CIPTAAN GESANG
  • Bengawan Solo
  • Jembatan Merah
  • Pamitan (versi bahasa Indonesia dipopulerkan oleh Broery Pesulima)
  • Caping Gunung
  • Ali-ali
  • Andheng-andheng
  • Luntur
  • Dongengan
  • Saputangan
  • Dunia Berdamai
  • Si Piatu
  • Nusul
  • Nawala
  • Roda Dunia
  • Tembok Besar
  • Seto Ohashi
  • Pandanwangi
  • Impenku
  • Kalung Mutiara
  • Pemuda Dewasa
  • Borobudur
  • Tirtonadi
  • Sandhang Pangan
  • Kacu-kacu
GESANG MENULIS SURAT UNTUK CAPRES-CAWAPRES
Gesang masih menyempatkan diri menulis surat kepada para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang berisi ajakan moral mengembalikan kejayaan Indonesia. Nampaknya tak salah jika Gesang meminta Iwan Fals untuk terlibat dengan mengolah makna isi surat tersebut, untuk dijadikan sebuah lagu untuknya, dan juga bagi segenap bangsa Indonesia.
Seperti pada salah satu lirik lagu Bengawan Solo yang diciptakannya, Gesang menulis, “Saya menaruh harapan besar kepada ibu/bapak capres dan cawapres, baik yang terpilih maupun belum terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, ikhlas mengumandangkan Tembang Gesang – Tembang Kehidupan yang mengalirkan kedamaian dan kemakmuran Indonesia sampai jauh…”
Selanjutnya ia menulis, “Ibu/bapak yang setia menjadi sahabat lingkungan, ibu/bapak yang menciptakan sejahtera merata, ibu/bapak yang memprioritaskan pendudukan sebagai sumber daya terbesar, ibu/bapak yang meyakini kebhinekaan adalah anugerah Allah SWT, saya percaya jika ibu/bapak bersama-sama terus berjuang dalam berbagai upaya dan keteladanan maka kian merekah berjuta senyum Indonesiaku”
Pada surat tertanggal 3 Juli 2009 itu, Gesang yang lahir pada 1 Oktober 1917 itu menutup suratnya dengan kata, “Sebelum aku mati, sudikah ibu/bapak berjanji?”
Sayangnya, menurut Direktur Kreatif PT Kraftiq Advertising Paul Bernadi, yang membacakan surat tersebut pada jumpa pers mengenai rencana kegiatan Tembang Gesang, Tembang Kehidupan, di Jakarta, Senin, surat yang dikirim pada akhir pekan lalu (3/7) melalui pos itu, belum mendapat tanggapan dari para capres dan cawapres.
Pada kegiatan yang mengangkat nama Gesang itu, kata dia, sang maestro juga meminta penyanyi terkemuka Iwan Fals bersedia membuatkan lagu Tembang Gesang, yang membangkitkan kesadaran semua komponen bangsa untuk bersama-sama menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera.
Kerabat yang menjadi pengurus Yayasan Gesang, Didit Bagus P, mengharapkan kegiatan Tembang Gesang yang rencananya akan diselenggarakan pada awal Oktober 2009 itu juga menggalang dukungan membangkitkan kembali musik keroncong yang selama ini menjadi aliran lagu-lagu ciptaan Gesang.
“Saat ini tidak ada stasiun televisi, kecuali TVRI, yang menyisihkan waktunya untuk keroncong, karena musik keroncong tidak bisa menjual, tidak ada sponsornya,” ujar dia.
Sementara itu Sekjen Yayasan Karya Cipta Indonesia, Henry Soelistyo, yang mendukung kegiatan tersebut mengharapkan ada kegiatan yang lebih kongkrit untuk memberi penghargaan kepada Gesang sebagai seniman musik Indonesia yang karyanya telah mendunia, karena sejumlah lagunya digemari masyarakat Jepang, China, Vietnam, Amerika, Belanda, serta sejumlah negara lainnya di Eropa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

SEJARAH MUSIC

More on this category »

JENIS-JENIS MUSIC

More on this category »

TOKOH MUSIC

More on this category »